Sinopsis Paradise Ranch Eps. 2


Da Ji sangat senang bertemu Yun Ho lagi.

Da Ji       :”Ahjussi!Kau selalu datang di saat yang tepat!”
Da Ji bangkit dan memperkenalkan Yun Ho pada Tuan Yang.
Da Ji       :”Orang ini adalah ahlinya membeli kuda. Kami membeli Paulist bersama. Ahjussi! Katakan sesuatu!”
Yun Ho  :”Ya. Namanya adalah Paulist. Ia dari ras asli. Dia menjadi populer setelah memenangkan 8 juta won.”
Yang      :”Ya. Karena dia ras asli makanya ia tidak bisa jalan atau berlari. Ia hanya bisa makan, minum dan buang air!”
Yun Ho berbisik ke Da Ji. “Orang ini pasti akan membuat gosip.”
Yun Ho ke Tuan Yang :”Aku akan memberimu 20 juta won. Sebab sebenarnya, karena permintaan Da Ji-lah aku melepas kuda yang ingin kubeli ini. Aku ingin kuda ini karena dengan kuda ini aku bisa mendapatkan banyak. Sebenarnya kuda ini bisa dihargai 60 juta won.” Da Ji kaget mendengarnya.
Yun Ho ke asistennya    :”Berikan dia 60 juta won.”
Tuan Yang langsung menolak. Yun Ho tersenyum karena rencananya berhasil.
Da Ji minta maaf pada Yun Ho karena telah merepotkannya untuk kesekian kalinya. Yun Ho bertanya apa ini peternakan yang waktu itu dibicarakan. Da Ji membenarkan, hanya saja ada sedikit masalah. Saat ini sedang dicarikan solusi terbaik.
Da Ji     :”Ahjussi, kapan kau datang?Apa kau berencana tinggal disini beberapa hari?Dimana kau menginap?”
Yun Ho :”Aku datang kesini kemarin. Rencananya, aku akan menginap 2 bulan. Aku menginap di D.I Resort.”
Da Ji     :”Ahjussi, tempat itu tidak bagus. Jangan menginap disana,”
Yun Ho  :”Tidak bagus? Kenapa?”
Da Ji   :”Sebenarnya bukan tidak bagus..saat mereka membuka lapangan golf disana, bola golf itu sering jatuh dan kena kepala penduduk. Tidak hanya itu saja, dulu disini banyak ayam tapi setelah makan rumput, mereka semua sakit. Lalu mereka membuat tempat speed boat. Mereka merusak alam tanpa memperhatikan kondisi penduduk. Bagaimana bisa mereka membuat resort dengan penuh kebahagiaan?Benarkan, Ahjussi?”
Yun Ho kebingungan menjawab akhirnya ia mengiyakan.
Yun Ho ke asistennya :”Temukan penginapan yang lain.”
Da Ji :”Tidak seperti itu!Sepertinya aku sudah kebanyakan bicara!Sebenarnya, peternakan kami ini berada di situasi yang rumit. Susah dijelaskan.”
Yun Ho lalu melirik tas yang dibawa Da Ji. “Kau mau pergi kemana?”
Da Ji teringat ia harus ke Seoul. “Maaf, Ahjussi! Hari ini aku tidak bisa jadi tour guidemu!Aku harus pergi negosiasi! Kapan-kapan yaaa…”
Da Ji berlari pergi.
Da Ji berteriak dari jauh: “Aku tidak tahu kau benar-benar kemari. Terima kasih! Kupikir kau terlihat lebih tampan jika dilihat dari sini. Semoga kau menikmati waktumu!” Da Ji melambaikan tangan.
Yun Ho tersenyum dan berkata pada asistennya :”Mengapa kau tidak coba bicara dengan mereka?”. Asisten menjawab: “Baik. Aku akan mengkonfirmasikan sekarang. Tour guidemu sudah menunggu.” Yun Ho:”Bukankahkita sudah memiliki tour guide?Untuk apa tour guide lagi?”
Kakek sedang rapat bersama dewan-dewan direksinya. Dong Joo malas mendengar kakeknya. Ia asik mencoret-coret kertas.
Kakek   :”Anda pasti sudah mendengar berita yang beredar. Mulai saat ini aku mengundurkan diri sebagai direktur utama dari Perusahaan Dong In ini. Aku sudah melakukan yang terbaik yang kubisa untuk perusahaan ini. Untuk itu, aku memilih Han Dong Joo sebagai direktur baru Dong In group.”
Tae Man yang sudah mempersiapkan diri untuk dipanggil namanya pun kaget ternyata kakek lebih memilih Dong Joo. Dong Joo yang dipanggilpun tidak sadar saat semua dewan direksi menoleh ke arahnya. Tae Man mencoba meyakinkan ayahnya kembali tapi keputusan kakek sudah bulat. Bahkan kakek menyerahkan urusan proyek di Pulau jeju ke Dong Joo. Kakek pergi dari ruang rapat. Dong Joo masih tidak mengerti apa yang terjadi.
Da Ji datang ke Seoul untuk bertemu Dong Joo mengenai masalah peternakan. Ia meyakinkan dirinya sendiri.
Dong Joo dan Tae Man menuju ruangan kakek untuk mengubah keputusannya. Dong Joo berusaha menawar, tapi tetap saja. Keputusan kakek tidak bisa diganggu gugat lagi.

Dong Joo turun lewat eskalator. Ia melihat Da Ji digendong oleh petugas keamanan sambil teriak-teriak memanggil Dong Joo. Petugas keamanan itu akhirnya melepaskannya. Da Ji melambaikan tangan ke arah Dong Joo tapi ditatap sinis oleh Dong Joo.

Da Ji dan Dong Joo bicara di luar kantor.
Da Ji      :”30% tanah yang kaubeli itu adalah tanah dimana rumahku ada di atasnya!”
Dong Joo:”Bukankahsebelumnya kau berkata rumahmu hanya berada 20% dari tanah itu?”
Da Ji kebingungan mau jawab apa.

Da  Ji     :”Ehhh…itu… kalianlah yang mengambil rumah kami! Kalian juga mau menghan-
curkannya!Kau tahu, itu tindakan yang ilegal!”
Dong Joo:”Ini tidak ilegal karena kau sendiri yang menandatanganinya.”
Da Ji hanya menjawab lemas. “Yah…aku tahu itu.”

Dong Joo memelankan suaranya. “Sekarang apa yang kau inginkan?”
Da Ji menjawab lemah. “Aku tidak bisa menerima kondisi ini. Biarkan aku menemui perwakilan perusahaan.” Dong Joo marah lagi dan membentak. “Apa kau pikir bisa mengubah keputusan direktur?” Da Ji terus memaksa ingin bertemu Tae Man.

Dong Joo:”Hasilnya tetap tidak akan berubah! Mau sampai kau bicara dengan ayahku juga tetap tidak akan berubah! Apa kau lupa bagaimana kita berpisah? Jika kau mau berbicara dengan kepala organisasi orang itu adalah ayahku. Sebaiknya kau pergi!”
Da Ji      :”Apa kau membeli peternakan itu karena kau tahu kalau itu milik keluargaku?”
Dong Joo:”Khayalanmu terlalu tinggi! Kita berada dalam hubungan seperti apa untuk melakukan sesuatu? Satu hal yang harus kau ingat. Perusahaan ini tidak akan main-main. Masih banyak hal lain yang harus dikerjakan.”

Da Ji masih berkeras ingin bicara dengan Tae Man. Dong Joo tetap melarang. Ia membentak Da Ji. “Apa kau ini orang putus asa yang bodoh? Mengapa kau begitu keras kepala?”. Da Ji membalas. “Bodoh?Aku?!” Dong Joo semakin emosi. “Aku benci melihatmu!” Dong Joo langsung pergi meninggalkan Da Ji yang masih kaget mendengar ucapan Dong Joo.

Da Ji datang ke peternakan tempat Eok Soo bekerja di Seoul. Ia sedih melihat ayahnya yang dimarahi atasannya karena dianggap tidak bisa mengurus kuda dengan benar. Da Ji memanggil ayahnya dengan ceria. Eok Soo mengajak Da Ji masuk ke dalam. Da Ji dibawa masuk ke dalam kamar Eok Soo. Tempat itu begitu kecil. Da Ji kasihan pada ayahnya.

Da Ji    :”Appa…apa kau tinggal disini?”
Eok Soo:”Tidak tiap hari. Aku tinggal disini jika dibutuhkan saja.”
Eok Soo membuka kulkas dan mencari susu strawberry sesuai dengan rasa yang Da Ji suka. Sayangnya tidak ada. Eok Soo yang melihat Da Ji begitu lemas menanyakan apa ada masalah. Da Ji menyangkal. Eok Soo juga menanyakan kondisi peternakan.

Eok Soo:”Da Ji-ah, pasti kau sangat lelah. Aku selalu merasa bersalah.”
Da Ji    :”Tidak tidak..pasti ayah yang lelah karena datang sendirian ke Seoul.”
Eok Soo:”Tidak ada yang perlu disesalkan untuk orang sepertiku yang menghabiskan sisa waktunya bersama kuda. Ayah sama sekali tidak lelah. Da Ji, kita masih harus berjuang lagi 1 tahun ke depan sampai ayah kembali ke Pulau Jeju. Bahkan nanti ayah tidak akan membiarkanmu menyentuh 1 ember pun.”
Da Ji tersenyum mendengarnya.

Tiba-tiba manager peternakan datang dan meneriaki nama Eok Soo. Eok Soo keluar. Manager peternakan itu marah-marah karena Eok Soo melarang seekor kuda untuk berjalan padahal dokter hewan berkata kondisi kuda itu baik-baik saja. Eok Soo menjawab kalau kaki kuda itu masih lemah. Manager perusahaan itu membentak Eok Soo yang dianggap sombong mentang-mentang punya sedikit kemampuan. Da Ji mengintip dari balik pintu. Ia sedih melihat perlakuan yang didapat ayahnya.

Da Eun datang ke ahjumma yang bekerja di restoran. Da Eun membantu ahjumma itu mengupas bawang bombay. Ia mengeluh karena bawang bombay ini membuat matanya berair.
Ahjumma   :”Da Ji pasti sudah bekerja keras. Oppa (Eok Soo) juga. Hidup pasti sangat sulit bagi mereka.”
Ahjussi datang dan mengomel ke ahjumma. :”Ya! Kau ada di usai berapa yang masih menyebut kakak yang lebih tua dengan sebutan ‘oppa’? Apa kau tidak merasa aneh?” Ahjumma tetap berkeras memanggil Eok Soo oppa. Da Eun yang melihat ini berkomentar. “Ahjussi..jangan-jangan kau menyukai ahjumma ya? Itu terlihat jelas.” Semua diam.

Da Eun     :”Ah..iya..aku sudah meng-upload gambar peternakan ke internet. Hasilnya lumayan. Banyak orang dari Australia, Filipina, China, Los Angeles, dan Korea mengunjungi website kita. Aku menampilkan foto yang bagus dengan sedikit special effect.”
Anaknya ahjumma itu berkomentar ke Da Eun. “Wah..Da Eun, ternyata kau sangat pintar.” Dengan PDnya Da Eun menjawab. “Ya. Tentu saja. Aku sudah tahu itu.”

Dong Joo dan Jin Young bertemu di apartmen Dong Joo.
Dong Joo   :”Kapan kau datang?”
Jin Young  :”Sekitar 5 jam yang lalu. Sudah 3 bulan tapi tempat ini selalu saja bersih. Apa kau membersihkannya? Atau kau membersihkannya karena tahu aku akan datang?”
Dong Joo   :”Ini tempat rahasiaku.”
Jin Young   :”Apa kau sedang ada masalah?”
Dong Joo  :”Ya, ada. Kakek membuatku harus bertanggung jawab masalah bisnis di Pulau Jeju. Aku sangat tidak menyukai bisnis. Ini tidak cocok untukku.”
Jin Young   :”Aku yakin kakek memiliki alasan. Coba saja terlebih dahulu.”
Dong Joo tersenyum. Ia meminta Jin Young untuk mencuci muka dulu.

Yun Ho sedang bermain golf dengan asistennya. Mereka membahas tentang Perusahaan Dong In. Yun Ho berkata ingin meminjam mobil. Ia pergi. Ia pergi ke peternakan Paradise.

Da Ji sedang membawa beberapa jerami di kereta dorong. Yun Ho datang dan membantunya. “Akan lebih cepat jika dibantu. Dengan ini tour guide kita memiliki banyak waktu,” Da Ji tersenyum mendengarnya.

Mereka berdua pergi dengan mengendarai mobil Yun Ho. Da Ji menunjukkan tempat-tempat untuk meihat sunrise/sunset. Yun Ho berkata hotel sudah memberi tahunya. Yun Ho malah mengajak Da Ji ke area instruksi hotel. Da Ji tidak suka dan mengajak Yun Ho pergi dari situ.

Da Ji mengajak Yun Ho bersepeda mengitari pantai. Ia menunjuk ke arah patung kakek. Da Ji menjelaskan kalau menurut kepercayaan penduduk jika kita menyentuh hidung patung ini maka kita akan mendapat bayi.

Mereka bertemu dengan seorang ahjumma yang sedang menyelam mengambil kepiting dan abalone (rata-rata pekerjaan para ibu di Pulau Jeju jadi penyelam). Mereka bicara dalam dialek Jeju. Yun Ho tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ahjumma itu menyuapkan daging kepiting ke Yun Ho. Yun Ho awalnya menolak tapi akhirnya mau. Ahjumma memuji ‘pacar’ Da Ji yang tampan dalam dialek Jeju. Da Ji berkata ia sangat berharap dnapat menyimpan ‘pacarnya’ di dompet sehingga bisa dibawa kemana-mana.

Da Ji mendapat telfon dari seseorang. Ia marah-marah di telfon. Begitu menyadari ada Yun Ho, ia memelankan suaranya. “Sudah kukatakan aku menolak!Aku tidak butuh biaya kompensasi!”

Sementara itu di dalam mobil Dong Joo juga sedang menelpon. “Hanya 2 bulan..aku tidak mau lebih lama dari itu. Baiklah. Lakukan apapun yang kaumau.”

Yun Ho mengantar Da Ji sampai ke peternakan. Yun Ho keluar dari mobil dan berniat membukakan pintu untuk Da Ji tapi Da Ji sudah keluar duluan. Da Ji akhirnya masuk kembali ke dalam mobil supaya Yun Ho dapat membukakan pintu mobil untuk dia. Mereka bertukar nomor ponsel. Da Eun datang dan menatap mereka curiga Yun Ho. Da Ji memperkenalkan Da Eun ke Yun Ho. Da Eun minta Yun Ho memperkenalkan dirinya. “Aku Seo Yun Ho. 33 tahun.” Da Ji kaget mendengar usia Yun Ho. Ia mengira Yun Ho masih berusia sekitar 20 tahun.

Da Eun ke Yun Ho: “Kau memiliki banyak kerutan di sekitar matamu. Kau tidak terlihat seperti pria usia 20 tahun. Asal kau tahu, kakakku ini jarang membawa pria kemari. Bahkan ini pertama kalinya setelah 1 juta tahun!”
Da Ji langsung membekap mulut Da Eun dan mengajaknya ke dalam rumah. Da Ji berjanji ke Yun Ho akan menelponnya. Da Eun curiga pada hubungan Da Ji dan Yun Ho.

Ternyata Dong Joo melihat semua itu dari dalam mobil. Ia kesal melihat keakraban Yun Ho dan Da Ji. Ia langsung pergi dari situ.

Da Ji sedang di depan cermin untuk melihat baju apa yang yang harus ia pakai. Tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di luar. Ia keluar dan melihat orang-orang sedang mengukur tanah.

Dong Joo melihat profil Yun Ho di internet. Ia kesal melihat riwayat pendidikan Yun Ho. “Huh! Mengapa ia sekolah di banyak tempat? Apa dia tidak punya hal lain yang harus dilakukan selain sekolah? Huh dia juga menulis semua penghargaan yang ia dapatkan…”

Terdengar pintu diketuk dan Da Ji masuk. Dong Joo langsung menutup layar mozillanya.
Da Ji         :”Apa alasanmu memulai konstruksi? Mengapa?”
Dong Joo   :”Apa maksudmu?”
Da Ji      :”Ada banyak tukang bangunan di rumahku. Mengapa kau ingin menghancurkan rumahku?”
Dong Joo   :”Mengapa aku harus menyentuh rumah itu?”
Da Ji         :”Mengapa kau malah balik bertanya? Apa kau tidak tahu?”
Dong Joo   :”Apa ini ilegal? Mengapa kau tidak minta bantuan pacarmu yang luar biasa itu?”
Da Ji bingung. Dong Joo berkata lupakan saja.

Mata Da Ji mulai berkaca-kaca.
Da Ji         :”Mudah menggunakan hukum. Baik. Aku juga akan menggunakan hukum.”
Dong Joo   :”Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?”
Da Ji        :”Baik!Aku akan pergi!Tapi apa kau tahu?Mudah saja bagimu untuk menggunakan jalur hukum. Tapi bagiku, peternakan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Itu bagian dari hidupku. Lalu kau? Kau bilang aku pengganggu? Kau benar-benar lemah!”
Da Ji keluar ruangan dengan kesal.

Da Ji berjalan di lorong perusahaan sambil menangis. Yun Ho melihat Da Ji dari luar gedung. Ia menelpon Da Ji.
Da Ji        :”Oh, ahjussi. Aku sedang berada di luar. Hari ini ada beberapa masalah penting jadi aku tidak bisa menjadi tour guidemu.”
Yun Ho melihat Da Ji mengusap air matanya. “Yah..baiklah.”

Dong Joo marah ke asistennya karena tidak memberitahukan masalah pemulaian konstruksi di rumah pemilik peternakan (Da Ji). Asisten membela diri kalau Dong Joo sudah memberinya hak atas itu bahkan ia sudah menandatanganinya. Asisten menambahkan bahkan ia sudah memberikan laporannya ke Dong Joo. Dong Joo merasa bersalah.

Da Ji memanfaatkan tali pengukuran lahan untuk konstruksi sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Da Eun tidak terima bra-nya dijemur di tempat terbuka. Tiba-tiba asisten Dong Joo datang dan menanyakan Da Ji ke Da Eun. Da Eun bertanya tujuan asisten mencari Da Ji.

Yun Ho membawa Da Ji ke peternakannya. Da Ji menanyakan keadaan seekor kuda yang sedang sakit. Yun Ho berkata dia sakit colic. Da Ji mengelus kuda itu.

Yun Ho duduk di sebelah kuda itu.
Da Ji       :”Kuda tidak terlalu mempedulikan apa yang orang lain katakan. Tapi mereka akan berkata ‘sakit..sakit’. Aku mengerti apa yang mereka katakan.”
Yun Ho    :”Sekarang kuda itu berkata apa?”
Da Ji seperti berbisik dengan kuda itu. “Ah, ya. Kata kuda ini ahjussi sangat tampan. Dia punya selera yang bagus mengenai pria.” Yun Ho senang atas pujiannya. Da Ji minta ijin Yun Ho untuk merawat kuda yang sakit ini. “Itulah tujuanku mengapa kau dibawa kemari.”

Yun Ho mengajak Da Ji ke ruangannya. Ia memberikan kontrak untuk merawat kuda yang sakit tadi. Mulai sekarang Da Ji harus merawat kuda itu 2 jam sehari. Gajinya 1,2 juta won.  Da Ji bingung mengapa gajinya sebesar itu. Yun Ho menjelaskan kalau perusahaan sedang mencari pelatih kuda. Dan kuda itu adalah kuda kesayangan Yun Ho. Da Ji mengerti. Yun Ho menjual kuda-kuda itu.

Dong Joo sedang memikirkan kata-kata Da Ji mengenai peternakan adalah bagian dari hidupnya. Dong Joo melihat surat-surat peternakan itu. “Han Dong Joo…Han Dong Joo…ya!Itu berarti tempat itu adalah milikku sekarang!Aku bisa melakukan apapun yang kumau.”

Asisten masuk dan memberikan berkas-berkas untuk rapat.
Dong Joo    :”Apa Seo Yun Ho akan datang?”
Asisten       :”Ya. Mereka bilang Seo Yun Ho memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Proposal kitapun ditolaknya. Ini akan sedikit sulit. Bahkan dia tidak percaya proposal kita. Dia lebih suka mencari proposal dengan caranya sendiri.”

Da Ji berdiri di depan rumah dan memotretnya.
Da Eun  :”Apa yang kaulakukan?”
Da Ji     :”Aku mengambil foto ini sebagai bukti bahwa ini rumah kita. Aku ini bukan berusia 19 tahun dan di bawah umur lagi.”
Da Eun  :”Mengapa kita tidak menerima uang kompensasinya saja?”
Da Ji     :”Tidak. Jangan biarkan mereka melihat kita sebagai orang yang perlu dikasihani.”
Da Eun  :”Kudengar jika masalah ini dibawa ke pengadilan kita akan kalah.”
Da Ji :”Jangan khawatir. Kakakmu ini tidak akan membiarkan mereka mengambil peternakan ini. Kita dan ayah sudah melakukan banyak usaha untuk mendapatkan lahan ini.”

Da Eun tiba-tiba berlutut sambil mengangkat kedua tangannya ke atas (lagi) sebagai tanda penyesalan. Da Ji bingung. Ia bertanya pada Da Eun. Da Eun mulai menangis dan berkata D.I Resort memberikan ini padaku. Ia mengeluarkan amplop dari bajunya dan menyerahkannya ke Da Ji.

Dong Joo, Yun Ho dan asisten mereka membahas masalah resort yang akan dibangun di sebuah restoran. Dong Joo hanya bingung menghadapi pertanyaan dari pihak Yun Ho sehingga diambil alih oleh asistennya. Asisten Dong Joo berkata ia akan membeli bangunan yang ada di dalamnya (rumah Da Ji). Tapi karena Yun Ho memiliki hubungan dengan pemilik bangunan (Da Ji) jadi jumlahnya dinaikkan. Yun Ho tidak mengerti.

Tiba-tiba Da Ji datang dan meneriakkan nama Dong Joo. Da Ji tidak melihat jelas wajah Yun Ho. Da Ji melempar uang ke depan wajah Dong Joo. “YAAAA!!!Han Dong Joo!!!!Sepertinya uang ini tidak cukup!” Da Ji menyadari kehadiran Yun Ho.
Yun Ho  :”Da Ji-ssi, apa yang kau lakukan disini?”
Da Ji     :”Ini masalah kompensasi.”
Yun Ho menatap asisten Dong Joo dan menanyakan jumlah kompensasi yang diberikan pada Da Ji. Asisten Dong Joo menjawab 2 kali lipat harga pasar. Yun Ho menjawab. “Sepertinya menurut Da Ji itu terlalu sedikit. Itu sebabnya ia datang. Tapi menurutku itu sudah lebih dari cukup.” Da Ji berkata “Bukan seperti itu…”
(Yun Ho sepertinya kecewa pada Da Ji yang dianggapnya memanfaatkannya untuk menaikkan jumlah kompensasinya).

Dong Joo memanfaatkan saat-saat ini untuk memanas-manasi Yun Ho. Yun Ho meninggalkan ruangan dengan tidak sabar. Ia bahkan membatalkan kontrak merawat kudanya dengan Da Ji. Da Ji semakin tidak mengerti.

Da Ji      :”Ahjussi..maksudku Seo Yun Ho. Apa dia investor disini?”
Dong Joo:”Dalam hubunganmu itu, apa kau tidak mengetahuinya?Bagaimana bisa?Peternakan dan orang itu. Apanya yang bagus?”
Da Ji     :”Mengapa kau membuat namaku begitu buruk?Apa aku begitu buruk sehingga kau membuatku seperti ini?Membiarkan kau menyakitiku dan membuatku ketakutan..Mengapa? Bagiku kau adalah keajaiban di tengah kehidupanku yang sulit!Mengingat kenangan itu…Apa kau berusaha mengubah kenangan itu?Aku mohon padamu agar tidak seperti ini. Jangan seperti ini padaku!” Da Ji pergi sambil menangis.

Di rumahnya, Da Ji melamun. Ia membuka sebuah kotak yang berisi foto pernikahannya dengan Dong Joo. Ia menatap foto itu dengan sedih.
Di tempat lain, ia memandangi surat-surat peternakan Paradise yang sudah menjadi miliknya.
Da Ji sedang merawat kuda milik Yun Ho. Yun Ho melihat. Da Ji memberitahunya bahwa kuda sudah membaik. Yun Ho hanya berkomentar pendek. “Ya. Terima kasih.”
Yun Ho berjalan pergi dan Da Ji mengejarnya. Ia berteriak minta maaf masalah kemarin. Ia menjelaskan kalau sebenarnya Da Eun yang menerima uang itu tanpa sepengetahuannya. Yun Ho menatap kepergian Da Ji.
Kakek dan Tae Man kaget melihat Dong Joo sedang duduk dengan posisi meditasi. Tae Man menanyakan tujuan Dong Joo datang. Dong Joo berkata ini masalah bisnis. Kakek dan Tae Man kaget mendengarnya.
Dong Joo        :”Para penduduk berdemo mengenai masalah ayam-ayam yang mati. Pada intinya, proyek ini kurang didukung masyarakat.”
Tae Man            :”Lalu apa maumu?”
Dong Joo          :”Pertama, kita tunda pembangunan dulu.”
Kakek               :”Lalu kita harus mendapatkan surat persetujuan dari masyarakat.”
Tae Man tidak setuju. “Tapi lahan itu sudah jadi milik kita. Untuk apa memerlukan surat persetujuan dari masyarakat?”
Kakek      :”Yang kita butuhkan adalah memenangkan kepopuleran dari kalangan masyarakat.”
Dong Joo setuju. Dong Joo minta waktu 2 bulan untuk mendapat surat persetujuan dari masyarakat. Tae Man ingin setengah bulan saja. Dong Joo tidak menyetujuinya karena ini menyangkut masalah resort yang pertama, jadi sekarang mereka harus menarik hati warga. Kakek setuju dengan pendapat Dong Joo.
Da Ji sedang memberi makan Paulist. Ia mengajak Paulist bicara sebentar. Tiba-tiba Dong Joo datang sambil membawa koper.
Da Ji         :”YA!Apa yang kau lakukan disini?Bukankah sudah cukup?”
Dong Joo   :”Lahan ini milikku.”
Dong Joo jalan masuk ke dalam rumah Da Ji. Da Ji melarangnya.
Da Ji         :”YA!Kau mau kemana?Ini rumahku!”
Dong Joo   :”Ini rumahku juga!Mulai sekarang aku berencana tinggal disini.”
Da Ji         :”Kau gila, ya?Sana cepat pergi!”
Dong Joo   :”Aku datang untuk membantumu!”
Flashback
 
Dong Joo masih diskusi dengan ayah dan kakeknya.
Kakek       :”Yang pertama kau harus pergi dan tinggal disana.”
Dong Joo  :”Apa?Pergi kemana?”
Kakek       :”Ya pergi ke peternakan itu!Kau bilang ingin membantu peternakan.”
Dong Joo :”Bahkan sampai tinggal disana…Apa itu tidak berlebihan? Dan bagaimana mungkin aku tinggal disana?”
Kakek       :”Hey, tanah itu atas namamu. Orang di bangunan itu pasti mengerti.”
Tae Man setuju. Dong Joo hanya bisa mengeluh.
 Flashback end.
 
Da Ji menolak keputusan itu. Dong Joo berkata tanah ini secara sah punyanya.
Da Ji        :”Pasti ini hanya akal-akalanmu untuk dapat tinggal bersamaku.”
Dong Joo  :”Kau terlalu percaya diri. Siapa yang ingin tinggal disini?Tempat ini bau kotoran kuda!Lagipula aku juga tidak mau tinggal disini walau semenit!Aku berniat tinggal disini selama 2 bulan setelah itu aku kembali ke Seoul dan akan memberikan separuh peternakan padamu.”
Da Ji    :”Kau akan membagikan peternakan ini denganku?Kau tidak sedang berusaha menipuku kan?”
Dong Joo  :”Kalau begitu lupakan saja.”
Dong Joo berjalan pergi. Da Ji menahannya. Dong Joo tersenyum penuh kemenangan.
Dong Joo masuk ke dalam rumah Da Ji dan melihat foto wisuda Da Ji.
Dong Joo       :”Hah?Lulusan Pulau Jeju?Pelatih kuda?Apa-apaan ini?”
Da Ji             :”Ayah dan aku adalah pelatih kuda.”
Dong Joo       :”Siapa bilang aku penasaran?”
Da Ji memberikan surat kontrak ke Dong Joo.
Da Ji             :”Hal yang kau janjikan sudah kucatat.”
Dong Joo       :”Mengapa harus pakai surat kontrak segala?Apa kau takut aku mengingkar
janjiku?”
Da Ji             :”Aku sering ditipu karena itu aku butuh surat perjanjian.”
Dong Joo mendengus kesal.
Da Ji            :”Apa kau melakukan semua ini untukku?Ah sudahlah. Cepat tandatangani surat itu.”
Dong Joo tidak dapat menjawab pertanyaan Da Ji.
Dong Joo masuk ke dalam mobil untuk kembali ke Seoul sementara. Da Ji memberinya sekantong jeruk tapi ditolak Dong Joo. Da Ji tetap memaksa Dong Joo menerimanya.
Da Ji             :”Mobilmu mewah sekali. Sejak kapan kau belajar menyetir?”
Dong Joo tidak suka mendengar pertanyaan Da Ji. Dong Joo berpesan. “Jika ada orang yang bertanya mengenaiku jawab saja kau tinggal disini.” Da Ji kebingungan dan tapi mengerti. Ia melambaikan tangannya.
Da Ji datang ke peternakan Yun Ho untuk melihat keadaan kuda. Da Ji mengeluarkan surat kontraknya dengan Dong Joo. Ia amat bahagia. Da Ji memberikan minuman ginseng ke kuda itu tiba-tiba petugas datang dan menyeret Da Ji keluar. Petugas itu memarahi Da Ji karena telah memberikan makanan aneh pada kuda. Yun Ho datang dan membela Da Ji.
Yun Ho dan Da Ji bicara di luar dan membahas mengenai kuda yang dirawat Da Ji sudah bisa berlari. Mereka mengganti topik mengenai masalah kemarin. Yun Ho minta maaf karena sudah salah paham. Da Ji menerima permintaan maaf Yun Ho.
Yun Ho       :”Pada awalnya aku merasa tidak bersalah. Aku menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan ini.:
Da Ji            :”Tidak apa-apa. Lagipula hal yang tidak kusukai mudah kulupakan.”
Yun Ho          :”Jadi kau akan kembali bekerja disini, kan?”
Da Ji            :”Baiklah. Karena kau yang meminta. Ahjussi, mulai sekarang kita harus selalu bersama…maksudku, berteman.”
Yun Ho tersenyum dan berkata. “Sayangnya aku tidak berteman dengan wanita.”
Da Ji tidak mengerti maksud ucapan Yun Ho.
To Be Continue …

Shared at shiningyesung.wordpress.com by clouds

TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s