Sinopsis Paradise Ranch Eps. 1


Sinopsis Paradise Ranch Episode 1:

Cerita di awali dengan adegan “melarikan diri” yang dilakukan oleh Han Dong Joo (Shim Changmin) dan Lee Da Ji (Lee Yeon Hee) dari kejaran ayah Da Ji, Lee Eok Soo, dan ayah Dong Joo, Han Tae Man. Tuan Lee Eok Soo mengejar mereka berdua sambil berteriak-teriak meminta agar Da Ji tidak kabur.

 

 

Da Ji dan Dong Joo berniat untuk kawin lari. Sayangnya usaha mereka itu gagal, karena saat mereka berniat untuk mendaftarkan pernikahan mereka, petugas yang ada di sana mengatakan bahwa Da Ji masih di bawah umur jadi mereka berdua harus mendapatkan persetujuan dari orang tuanya dulu. Dong Joo berusaha menenangkan Da Ji dang mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah. *so sweeeeet…… author senyum2 gaje*

 

Akhirnya Dong Joo dan Da Ji pulang pergi ke rumah Dong Joo untuk memohon ijin pada Han Suk Sang (kakek Dong Joo) dan kedua orang tua mereka agar mengijinkan mereka berdua menikah.

Da Ji: “Appa, aku takut kalau harus pergi keluar negeri seorang diri tanpa Ayah dan Dong Joo.”

Do Joo: “Ahjusshi, aku akan menjaga Da Ji seumur hidupnya. Aku akan membahagiakan Da Ji.”

*author mau kok seumur hidup bersama Changmin Oppa…. /plaaaakkkk… author ditampar readers, abaikan aja celotehan gaje ini.. ^^*

Sayangnya Ayah Han Dong Joo tidak setuju kalau Da Ji dan Dong Joo menikah. Ayah Dong Jo marah karena Dong Jo tiba-tiba mengatakan ingin hidup bersama dengan Da Ji seumur hidupnya.

Han Suk Sang: “Sejak SMP kau sudah dengan seenak kepalamu mengikuti kemanapun Da ji pergi. Sekarang kau berani mengatakan mau hidup bersamanya seumur hidupmu!! Kau benar-benar kepala batu!!”

Ayah Dong Joo itu sudah bersiap-siap untuk memukul kepala Dong Joo dengan bantal, tetapi Da Ji menghalanginya dan melindungi Dong Joo. *waahhh… nggak kebalik neh?? Biasanya kan cowo yang ngelindungi cewe… hohoho.. //plaaaak abaikan saja author gaje ini*

Tiba-tiba kakek Dong Joo berlutut dihadapan ayah Da Ji. Beliau meminta agar ayah Da Ji mengijinkan Dong Joo menikahi Da Ji.

Han Suk Sang: “Eok Soo, mari kita restui saja hubungan kedua anak ini.”

Lee Eok Soo: “Tuan, aku mohon jangan seperti ini. Bangunlah.”

Han Tae Man: “Ayah!!” (sampai saat terakhirpun ayah Dong Joo masih tidak merestui hubungan Da Ji dan Dong Joo)

Han Suk Sang: “Jangan membantah!” (Kakek Dong Joo memotong perkataan Ayah Dong Joo kemudian beliau kembali berbicara pada ayah Da Ji). “Apakah kau tahu aku membesarkan Dong Joo dengan tanganku sendiri? Bagiku Dong Joo lebih berharga daripada anakku sendiri. Aku sangat menyayanginya. Aku akan merawat Da Ji seperti merawat anakku sendiri”

Akhirnya karena mendapat dukungan dari Kakek Han Suk Sang, pernikahan Dong Joo dan Da Ji pun dilangsungkan. *author yakin banget kalau sebenarnya ayah Dong Joo masih nggak setuju dengan pernikahan itu… >.<*

 

Dan hal yang pertama kali Da Ji dan Dong Joo lakukan saat ma;lam pengantin mereka adalah………………………. menonton pertandingan sepak bola!!! *hohoohohohohoho… hayo tadi readers pada mikir apaan???? (~o~)*

Saat pasangan pengantin baru itu menonton bola, mereka berdua berteriak2 gembira saat tim yang mereka dukung berhasil menyarangkan sebuah gol di gawang lawan. Dan tanpa mereka sadari saat mereka berteriak2 gag jelas merayakan gol itu, tangan Dong Joo tanpa sengaja mendarat di dada Da Ji!!! Dan….. adegan di sensor… *khehehhehhehehe evil author muncul*

Namun sayangnya pernikahan kedua orang itu tidak berlangsung lama. Setelah menikah selama 6 bulan*mwo??? hanya 6 bulaaaaaaaan???*, Dong Jo dan Da Ji bercerai. *di sini belum diceritakan alasan mereka berdua berpisah secepat itu*

6 tahun kemudian….

Terlihat sosok Lee Da Ji yang sedang berbaring dengan tenang di sebuah ranch (peternakan kuda). Namun rasa damai yang Da Ji rasakan saat itu tidak berlangsung lama, karena tiba2 datang seorang lelaki tua yang selama ini selalu Da Ji hindari *kalau nggak salah sih, lelaki itu pemilik kuda yang dirawat oleh Da Ji*. Begitu datang, lelaki tua itu langsung mengomel-ngomel sambil mendekati Da Ji,  Da Ji cepat-cepat memakai sepatunya dan berlari kencang menghindar lelaki itu. Dan saat adegan kejar-kejaran itu berlangsung, tiba2 Da Ji terjatuh tepat di atas kotoran kuda!!!

 

Da Ji segera bangun dan tiba2…… dia mengambil kotoran kuda itu dengan kedua tangannya dan menciumnya!!!! *eeeiiiiiiiiuuuuuuuhhhhh…… >.<*

Sambil berteriak “Fecesnya!!! Kotorannnya!!!”, Da Ji berlari ke arah istal kuda menemui ayahnya. Ternyata gara2 tidak sengaja mencium bau kotoran kuda itu, Da Ji jadi tahu penyebab kenapa kuda di peternakannya selalu mengalami keguguran. Ternyata penyebabnya adalah makanan kudanya! *author agak nggak ngerti dengan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penyebab keguguran ini… hohohohohohoho ^^*. Dokter hewan yang saat itu sedang memeriksa kuda bersama dengan ayah Da Ji saja sampai heran kenapa Da Ji bisa tahu mengenai hal ini. Ternyata di cerita ini Da Ji itu juga seekor… ehh.. seorang Veterinanian alias dokter hewan juga… ^^

Sementara itu, di tempat yang lain, Dong Joo sedang tidur dengan tenang di tempat tidurnya. Namun tidur tenangnya terganggu karena suara telepon dari ayahnya. Ayah Dong Joo marah-marah karena sudah sesiang itu tapi Dong Joo belum juga muncul di kantor. Dong Joo membela diri dengan mengatakan bahwa meskipun dia datang pagi2 pun tidak ada yang bisa dia kerjakan. *uuuhhhh…. author pengen ada di sebelah Changmin Oppa pas Oppa lagi tidur.,,,, /plaaaaakkk *

Akhirnya Dong Joo pun bangun dengan terpaksa dan bersipa-siap pergi ke kantor karena ayahnya mengancam akan membekukan semua kartu kreditnya jika dia tidak datang ke kantor.

 

Sementara di waktu yang bersamaan Da Ji sedang bercakap-cakap dengan seorang pria (dokter hewan yang ada di istal saat dia berlari mencari ayahnya). Dia menceritakan tentang peternakan itu pada dokter hewan itu. Dia juga membanggakan peternakannya itu pada si dokter hewan. Namun saat Da Ji sedang memperlihatkan seekor kuda Stallion pada sang dokter, tiba2 kuda itu berlari sambil menyeret Da Ji!!!! *hahhahahahahhahahha (^_^)*

Di tempat lain, Dong Joo masuk ke ruangan kantornya dengan mengendap2, berusaha tidak menarik perhatian Kakek dan Ayahnya. Tapi begitu Dong Joo masuk, Kakeknya langsung melempar jeruk yang ada di meja di depannya ke arah Dong Joo. Tapi dengan usilnya *???* Dong Joo menangkap jeruk yang dilempar Kakeknya itu sambil berkata “nice catch”. Dan kakeknya pun segera melempar keranjang tempat jeruk itu tepat ke kepala Dong Joo!!! *wkakakkakakkakaakkakkaka….. nice throw, Kek!!!*

Kembali ke scene Da Ji… Di rumahnya Da Ji sedang diomeli oleh pemilik kuda yang dia rawat. Si pemilik kuda bertanya pada Da Ji apakah benar Da Ji akan pergi ke Australia untuk membeli kuda yang bagus. Da Ji membenarkannya dan mengatakan bahwa kuda yang akan dia beli ini akan menjadi kuda hebat yang mengubah dunia balapan kuda Korea Selatan. Si pemilik kuda meminta Da Ji untuk menjual kuda itu padanya dan pemilik kuda itu berjanji akan menanggung seluruh biayanya dan menambahkan 5.000.000 won untuk Da Ji. Namun dengan sangat percaya diri, Da Ji menolak tawaran menggiurkan itu dan berkata bahwa dia sendiri yang akan merawat kuda itu dan meraup setiap won keuntungan dari balapan kuda yang akan diikuti oleh kudanya itu. Da Ji berencana membangun rumah di ranch dari keuntungan yang di dapatnya. Namun impian Da Ji runtuh saat pemilik kuda itu mengatakan bahwa Tuan Park sudah menjual peternakan itu (Paradise Ranch) pada orang lain.

Da Ji segera menemui Tuan Choi perihal penjualan Paradise Ranch tersebut. Da Ji berusaha membujuk Tuan Choi agar tidak menjual Paradise Ranch pada orang lain. Pada saat yang bersamaan ayah Da Ji juga mendatangi Tuan Choi sambil marah2 setelah mendengar bahwa Paradise Ranch, peternakan yang sudah ditinggalinya dan keluarganya selama bertahun-tahun dan memiliki banyak kenangan, di jual begitu saja kepada orang lain saat dia berusaha keras untuk membeli Paradise Ranch itu. Tuan Choi membela diri dengan mengatakan bahwa dia juga memiliki keluarga yang harus dipikirkannya, kalau dia tidak segera menjual Paradise Ranch, dia tidak bisa memberi makan untuk keluarganya. Ayah Da Ji marah besar dan berlari mengejar Tuan Choi, berniat untuk memukuli dan menghajarnya.

 

Di lain tempat, ternyata Tuan Han Suk Sang memerintahkan Dong Joo untuk pergi ke Australia untuk membeli sebuah kuda Volpony untuk di tempatkan di resort mereka yang ada di Pulau Jeju. Dong Joo menolak untuk pergi membeli kuda itu. Ayah Dong Joo marah mendengar perkataan Dong Joo, sedangkan kakeknya hanya diam dan kemudian menelpon seseorang. Tidak mau menyia-nyiakan tenaganya untuk berdebat dengan Dong Joo, ternyata Kakek Dong Joo memerintahkan bank untuk membekukan semua kartu kredit dan properti atas nama Dong Joo. *waaahhh author kasih 2 jempol buat kecerdasan Kakek Dong Joo dech… ^^*. Dong Joo segera merebut telepon dari kakeknya untuk mencegah tindakan kakeknya itu. Kakek Han Suk Sang kemudian memberikan pilihan pada Dong Joo, kalau Dong Joo tidak mau kekayaan atas namanya di bekukan, dia harus pergi ke Australia dan membeli Volpony.

Di lain tempat, Da Ji dan ayahnya berhasil memaksa Tuan Choi untuk menandatangani perjanjian agar Tuan Choi tidak menjual Paradise Ranch pada orang lain. Ayah Da Ji bertanya pada Da Ji apakah dia yakin akan mendapatkan kuda yang di incarnya di Australia itu. Dengan percaya diri, Da Ji mengatakan bahwa kuda itu pasti akan dia dapatkan dengan mudah. Dan tahukah kalian, readers??? Ternyata kuda yang dimaksud Da Ji itu adalah kuda Volpony!!! Yupz,,, Kuda yang sama yang juga di incar oleh Dong Joo!!!

Dan akhirnya, Da Ji berangkat ke Australia untuk mendapatkan Volpony. Tentu saja Changmin ehh… Dong Joo juga pergi ke tempat yang sama seperti yang dituju oleh Da Ji…. Yach, walau Dong Joo datang ke tempat itu dengan sangat amat terpaksa sekali…. ^^ Da Ji dan Dong Joo sempat berpapasan di sebuah tempat di lelang kuda di Australia itu, tapi mereka berdua sama2 tidak menyadarinya.

Sebelum pergi ke lelang kuda, Da Ji menyempatkan diri mampir di sebuah pub. Dan di tempat ini dia tanpa sengaja bertemu dengan seorang pria asing yang tampan. Dan pria asing itu memberikan topinya untuk Da Ji. Yach,,, saat itu Da Ji memakai topi yang di buat dari kertas koran, jadi penampilannya sedikit mencolok ditengah orang-orang yang memakai topi koboi.

 

Setelah itu Da Ji pergi ke istal menemui Volpony, kuda yang akan dibelinya. Da Ji mengajak kuda itu bercakap-cakap. *eehhhh???!!!!*. Si perawat Volpony mendatangi Da Ji dan mengatakn pada Da Ji bahwa Volpony terlihat sangat menyukai Da Ji. Dan dia mendoakan agar Da Ji memenangkan lelang untuk kuda Volpony itu. Saat sedang asyik mengobrol, tiba2 ada sura seorang pria memanggil perawat kuda yang sedang berbicara pada Da Ji. Daaaaaaaan… ternyata yang memanggil itu adalah lelaki yang memberikan topinya untuk Da Ji. Saat perawat kuda itu akan pergi menghampiri laki2 itu, Da Ji menahannya dan bertanya apakah pria yang ada di situ juga berasal dari Korea Selatan, namun si perawat kuda tersebut mengatakan bahwa Edward (nama laki2 itu) berasal dari Amerika.

Kemudian Da Ji kembali mengajak Volpony bercakap-cakap.

Da Ji: “Edward… nama itu sangat cocok untuknya. Edward itu sudah memberikan topi koboi ini untuk noona, padahal di tempat tadi banyak wanita lain yang lebih cantik. Noona-mu ini ternyata masih punya daya tarik yang besar”

Edward melihat Da Ji dan Volpony sambil tersenyum kecil. Di saat yang bersamaan, Dong Joo berjalan ke arah istal…. dan dia melihat Da Ji ada di sana. Dong Joo hanya terdiam melihat Da Ji yang sedang berbicara pada Volpony.

 

Da Ji dengan pd-na masih terus membicarakan Edward pada Volpony, dia tidak sadar bahwa Edward dan Dong Joo memperhatikan tingkah konyolnya itu. Da Ji bahkan bernyanyi di depan Volpony!!! Tiba2 Edward mendatanginya sambil mengatakan “Selamat” dalam bahasa Korea. Da Ji shock berat!!! Dia pikir Edward tidak bisa bahasa korea karena itu dia berbicara tentang Edward pada Volpony dalam bahasa korea. Dengan malu2, Da Ji bertanya pada Edward.

Da Ji: “Apakah kau orang Korea?”

Edward: “Orang tuaku adalah orang Korea.”

Da Ji menundukkan mukanya dengan malu2..

Edward: “Topi itu sangat cocok untukmu.”

Da Ji: “Ahhh… Terima kasih untuk topi ini. Aku juga sangat menyukai topi ini”

Edward: “Sampai jumpa lagi nanti.”

Edwar pun pergi. Da Ji membalikkan badannya sambil berkata “Sampai jumpa lagi?? Kapan??” Dia belum menyadari bahwa di depannya kini ada Han Dong Joo, mantan suaminya. Da Ji masih terpana pada Edward, lalu saat dia memandang kepergian Edward, Da Ji melihat Dong Joo.

Saat itu Dong Joo sudah beranjak pergi meninggalkan Da Ji. Da Ji berlari mengejar Dong Joo.

Da Ji: “Dong Joo. Ternyata ini benar kau. Apakah kau tadi tidak melihatku? Aku tadi memanggilmu beberapa kali dari kandang kuda dekat sini.”

Dong Joo: “Aku melihatmu.”

Da Ji: “Kalau kau sudah melihatku, kenapa kau pergi begitu saja?”

Dong Joo: “Aku tidak pergi begitu saja.”

Da Ji: “Kita sudah lama tak bertemu. Seharusnya kita saling menyapa.”

Dong Joo: “Kita tidak dalam sebuah hubungan yang mengharuskan kita untuk saling bertukar sapa.”

Da Ji: “Maaf. Sudah 6 tahun…”

Dong Joo: “Apa yang kau inginkan?”

Da Ji: “Ah… Itu… Bagaimana kabarmu?”

Dong Joo: “Bagiku, bagaimana kau hidup selama 6 tahun ini sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku tidak penasaran sama sekali”

Setelah mengatakan kalimat itu dengan dingin Dong Joo segera pergi ke tempat pelelangan kuda karena lelang akan segera dimulai. Da Ji mengikutinya dan di pelelangan itu, Da Ji memilih untuk duduk satu meja dengan Dong Joo.

 

Da Ji: “Aku bahagia. Dong Joo, apa yang kau pikirkan? Aku tidak begitu yakin…Tapi, bisa bertemu denganmu di sini benar2 membuatku senang. Aku selalu ingin bertemu denganmu.”

Dong Joo berpura-pura tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Da Ji.

Da Ji: “Kau… Bagaimana kau bisa pergi begitu saja saat ada yang sedang mengajakmu bicara….”

Tiba2 Da Ji berhenti bicara saat melihat Dong Joo sedang melihat profil Volpony di sebuah majalah.

Da Ji: “Kau pergi ke tempat ini untuk membeli kuda itu?”

Dong Joo: “Benar.”

Dan kemudian Da Ji dan Dong Joo bersaing meningkatkan penawaran mereka untuk Volpony. Dong Joo dengan tenang terus menaikkan tawarannya. Sedangkan Da Ji menghitung2 dengan kalkulatornya sebelum menaikkan tawarannya. Akhirnya Dong Joo menaikkan tawarannya sampai US$ 6o.ooo. Da Ji yang tidak rela kalau sampai harus kehilangan Volpony, tanpa berpikir panjang langsung menaikkan tawarannya menjadi US$ 61.000. Daaaaaaaaan… Akhirnya Da Ji yang memenangkan lelang atas Volpony, sedangkan Dong Joo pergi begitu saja begitu Da Ji menaikkan tawarannya.

 

Dan begitu sadar bahwa US$ 61.000 itu jaaauuuuuh melebihi budgetnya untuk membeli Volpony, Da Ji menjadi bingung. Akhirnya dia pergi ke hotel tempat Dong Joo menginap untuk meminjam uang. Saat akan memencet bel kamar Dong joo ada pelayan yang keluar dari dalam kamar Dong Joo, Da Ji pun langsung masuk ke dalam kamar Dong Joo. Dong Joo yang saat itu baru saja selesai mandi langsung keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Da Ji dan Dong Joo pun sama2 menjerit saat menyadari hal ini.

 

Dong Joo: “Ya!!!! Apa yang kau lakukan di sini?” Dong Joo berteriak sambil ccepat-cepat berpakaian.

Da Ji: “Itu….. Karena Volpony. Aku butuh 60 ribu dollar untuk membelinya. Begini.. Kau kan ingin membeli Volpony, sedangkan aku ingin menjualnya…”

Dong Joo: “Aku tidak ingin membelinya.”

Da ji: “Aku hanya punya 1ribu dollar. Sebenarnya aku ingin membelinya dengan uang 20.000.000 won. Kalau tahu harganya melampaui 60.000.000 won, tuan pemilik kuda tidak akan mau membeli kuda ini. Tapi kalau aku tidak membeli kuda ini, aku harus membatalkan transaksinya. Dendanya 5.000.000 won, dan aku tidak punya cukup uang. Padahal aku harus membelikuda yang lain.”

Dong Joo: “Itu bukan urusanku. Sekarang keluarlah.”

Da Ji: “Bukannya kau ingin membeli Volpony??? Aku sangat cemas dengan keadaan ini.”

Dong Joo: “Aku tidak mau ikut campur dalam masalahmu.”

Da ji: “Baiklah.”

Dong Joo: “Kau tiba2 muncul dihadapanku dan sekarang tiba2 meminta bantuanku?”

Da Ji: “Kenapa sih kau selalu marah2?? Sudah 6 tahun semenjak terakhir kali kita bertemu. Tidakkah kau merasa senang bertemu lagi denganku?”

Dong Joo: “Aku tidak merasa senang. Aku tidak suka. Jadi pergilah.”

Saat mereka sedang bertengkar tiba2 bel kamar Dong Joo berbunyi. Dong Joo pun pergi untuk membuka pintu. Trnyata yang datang adalah teman wanita Dong Joo. Wanita itu langsung memeluk Dong Joo begitu pintunya terbuka. Da Ji yang melihat hal itu, segera memalingkan wajahnya dengan sedih. Teman wanita Dong Joo yang menyadari kehadiran Da Ji bertanya pada Dong Joo siapa gadis itu. Dong Joo bingung harus menjawab bagaimana. Sebelum Dong Joo menjawab pertanyaan itu, Da Ji menyahutinya.

Da Ji: “Aku datang ke sini karena ada yang ingin aku diskusikan dengannya. Karena itu…. maaf kalau mengganggu.”

Setelah mengucapkan hal itu, Da Ji segera pergi. Dong Joo hanya diam menatap kepergian Da Ji.

Masih merasa sedih karena melihat Dong Joo bersama dengan wanita lain, Da Ji kemudian pergi ke sebuah bar. Tanpa di sangka-sangka ternyata di bar yang sama Edward sedang bersantai sambil minum bir. Da Ji duduk di sebelah Edward tanpa menyadari kehadirannya. Dan sambil melihat daftar menu, Da Ji mengoceh tidak jelas sambil bersenandung, mengungkapkan isi hatinya. Edward memandang tingkah laku Da Ji sambil sesekali tersenyum.

Da Ji: “Aku tidak memikirkannya. Jadi aku tidak boleh menangis. Jangan menangis. Kenapa menu di sini mahal sekali??”

Akhirnya Da Ji memesan satu botol bir. Padahal sebenarnya dia kelaparan setengah mati. Edward yang melihat hal itu tersenyum. Da Ji kembali berbicara sendiri.

Da Ji: “Ayah. Aku berada dalam masalah. Tanpa berpikir panjang aku menghabiskan lebih dari 50.000.000 won untuk membelinya. Aku harus mencari jalan keluar. Jalan keluar. Oh…Aku merasa suram sekali.”

Saat menuangkan birnya, isi bir nya meluap sampai ke meja. Dan dengan tanpa rasa malu, Da Ji mengambil sedotan dan meminum tumpahan bir yang ada di meja itu. Saat sedang melakukan hal itu, akhirnya Da Ji menyadari kehadiran Edward. Da Ji merasa sangat malu. Apalagi Edward menawarkan makanannya pada Da Ji. Karena merasa sangat lapar akhirnya Da Ji menghabiskan semua makanan itu. *omo….. memalukan…. T_T*

 

 

Setelah menghabiskan makanannya. Da Ji mulai membuka percakapan.

Da Ji: “Tuan, apakah kau suka membeli kuda?”

Edward: “Ya.”

Da Ji: “Berapa banyak?”

Edward: “Ehhhmmm, 13.”

Da Ji: “Banyak sekali. Apa kau berniat membuka peternakan?”

Edward: “Tidak juga, ini adalah sebuah kerjasama terbuka dengan peternakan.”

Da Ji: “Wah… Pantas saja. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah merasa bahwa anda adalah orang yang sangat berpengalaman dalam bidang ini.”

Nampaknya Da Ji menemukan orang yang tepat yang bisa membantunya untuk lepas dari masalahnya. Dan Da Ji menganggap bahwa Edward-lah satu2nya orang yang bisa membantunya saat ini. Tanpa Da Ji ketahui, Dong Joo sebenarnya juga berniat membantu Da Ji secara diam-diam. Walau saat bertemu Da Ji, Dong Joo berkata dia sama sekali tidak peduli dengan masalah Da Ji, tapi Dong Joo tetap berusaha membantu mencari orang yang mau membeli Volpony dengan harga setinggi itu.

Setelah menelepon seseorang, Dong Joo pergi berjalan-jalan dengan teman wanitanya.  Sementara itu, Da Ji dan Edward melanjutkan obrolan mereka di tempat lain. Edward berusaha membantu Da Ji untuk menjelaskan kepada pemilik kuda di peternakan (Tuan Yang) mengapa harga Volpony bisa mencapai 60.000.000 won. Namun Da Ji merasa sangat pesimis bahwa Tuan Yang mau membeli kuda ini, karena setahu Da Ji, Tuan Yang adalah orang yang sangat pelit. Uang Da Ji hanya tersisa 15.000.000 won.  Da Ji bingung kuda seperti apa yang  bisa dibelinya dengan uang sekecil itu. Edward berkata kalau mengenai masalah itu, dia bisa membantu Da Ji.

Keesokan harinya, Edward menemani Da Ji memilih kuda di sebuah tempat penjualan kuda. Saat melihat kuda yang pertama, Da Ji tampaknya tidak begitu menyukai kuda itu. Da Ji bahkan sampai berjongkok memeriksa alat kelamin kuda itu *wedew…… author tak bisa berkata2…*

 

Setelah melihat badan kuda itu, Da Ji memutuskan bahwa kuda yang satu itu terlalu biasa. Akhirnya Da Ji mengajak Edward untuk melihat-lihat kuda yang lain. Dan begitu melihat kuda yang selanjutnya Da Ji langsung terpikat pada kuda itu. Da Ji pun menanyakan pendapat Edward tentang kuda itu. Dan tanpa Da Ji sadari Dong Joo melihat hal itu. *jiah… ni ceritanya Da Ji ma Dong Joo terus2an ketemu secara kebetulan ea??? ^^*

Setelah mendapat persetujuan dari Edwad, akhirnya Da Ji membeli kuda yang kedua. Setelah selesai mengurus administrasi dan transportasi kuda itu, Da Ji mengucapkan banyak terima kasih pada Edward dan mengatakan bahwa Edward adalah penyelamat hidupnya. Dan saat itu, Da Ji melihat Dong Joo sedang berjalan bergandengan tangan mesra dengan teman wanitanya. Raut wajah Da Ji seketika berubah. Saat Dong Joo melihat Da Ji sedang bersama Edward, Dong Joo tampak kesal sekali. Dong Joo sengaja merangkul pundak teman wanitanya *author rasa itu bertujuan untuk memanas2i Da Ji*. Edward yang melihat perubahan di wajah Da Ji berusaha membantu Da Ji dengan cara merangkul pundak Da Ji. Dan memuji Da Ji dengan mengatakan bahwa Da Ji terlihat lebih menarik daripada teman wanita Dong Joo. Da Ji pun tersipu malu mendengar pujian itu.

 

Setelah itu, Da Ji mengantarkan Edward ke parkiran mobil. Saat melihat mobil Edward, Da Ji mengatakan bahwa Edward pasti mempunyai banyak uang. Edward menimpali dengan mengatakan, asalkan bisa menghasilkan uang aku akan mengupayakan segala cara. Saat itu, Edward juga memperkenalkan Da Ji pada tangan kanannya.

Pada kesempatan itu, Da Ji mengatakan pada Edward bahwa dia memiliki sebuah peternakan di Pulau Jeju. Da Ji berharap suatu saat Edward bisa berkunjung ke peternakannya. Da Ji juga menawarkan diri menjadi pemandu wisata bila Edward berkunjung ke Pulau Jeju. Dan mereka pun berpisah…..

Semetara itu di tempat lain di Korea selatan, Han Tae Man (ayah Dong Joo) bertemu dengan Lee Bok Shim (ibu Dong Joo) di sebuah tempat parkir. *kayanya sih kedua orang tua Dong Joo ini akan bercerai dech*

Han Tae Man: “Hai.. Nyonya Bok Shim… Aku yakin dengan uang 30.000.000 won kau bisa membeli mobil yang layak. Jika kau berencana untuk mendapatkan tunjangan dariku, seharusnya kau mengganti mobilmu terlebih dahulu. Aigooo, coba lihat pakaianmu… Apa kau takut aku akan mengusirmu begitu saja tanpa memberikan sepeser pun uang?? Apa karena itu kau memasang muka sedih seperti itu??”

Dan dengan tersenyum, Nyonya Bok Shim berlalu tanpa mempdulikan ejekan yang dilemparkan oleh suaminya itu. Hal itu membuat Han Tae Man menjadi marah dan berjalan mendekati Nyonya Bok Shim.

Han Tae Man: “Ya!!! Bagaimana kau bisa tidak menganggapku. Kau seharusnya berlaku baik padaku jika kau ingin bisa mendapatkan uang dariku.  Kau mengerti itu, kan??”

Lee Bok Shim: “Berapa besar uang tunjangan yang akan kau berikan padaku?”

Akhirnya mereka berdua masuk ke gedung dan di dampingi oleh pengacara mereka masing2.

Han Tae Man: “Siapa yang memberimu ijin untuk menuntut separuh dari aset kekayaan yang kumiliki???”

Pengacara Han Tae Man berusaha menenangkan kliennya yang sedang emosi itu. Pengacaranya berkata bahwa kalau hal ini terus berlangsung kliennya itu akan menjadi pihak yang merugi karena pihak Lee Bok Shim berusaha mengumpulkan bukti2 yang mendukung mereka. Pengacaranya itu kemudian menunjukkan foto2 bukti perselingkuhan Han Tae Man.

Han Tae Man: “Lee… Lee Bok Shim, sepertinya kau mengumpulkan setiap detil bukti. Kau bahkan tidak mengatakan sepatah katapun saat aku pulang terlambat. Kau menakutkan. Inilah alasan aku menceraikanmu. Apa kau tahu?”

Lee Bok Shim sama sekali tidak menanggapi ucapan suaminya itu. Dia malah meminta pengacaranya untuk menyerahkan perjanjian uang tunjangan pada suaminya itu. Di dalam surat perjanjian itu disebutkan bahwa jika suaminya itu mau menulis surat pernyataan bersalah, setiap lembar surat itu akan dihargai 30.000.000 won oleh istrinya. Han Tae Man pun tidak bisa berkutik mendengar hal itu.

Da Ji akhirnya kembali ke Pulau Jeju. Di bandara dia ternyata dijemput oleh dokter hewan yang dulu membantunya di peternakan. Da Ji merasa tersanjung dengan perhatian yang diberika oleh dokter itu. Tampaknya dokter itu merasa tertarik pada Da Ji. Dokter itu bahkan secara terang2an menanyakan kemungkinan hubungan mereka pada Da Ji. Tapi, dengan tenang Da Ji menyatakan bahwa dia pernah menikah. Dokter hewan itu sangat terkejut, sampai2 dia menginjak rem mobilnya secara mendadak.

Dokter Hewan: “Menikah…. maksudnya…”

Da Ji: “Tapi kami sudah bercerai… setelah 6 bulan menikah. Bagaimanapun itu adalah masa lalu.”

 

Sementara itu, Dong Joo tampak sedang beristirahat di rumah ibunya.

Lee Bok Shim: “Sudah hampir pukul 6. Apa kau tidak akan pergi?”

Dong Joo: “Kenapa? Apakah ibu akan berkencan dengan pacarmu?”

Lee Bok Shim: “Tutup mulutmu. Apa kau ingin makan dulu sebelum pergi? Ada restoran yang menjual makanan yang enak.”

Dong Joo: “Tidak usah. Oemma, apakah kau bahagia dengan keadaan seperti ini?”

Lee Bok Shim: “Hmmm.. Sangat bahagia.”

Dong Joo: “Ini bukan game. Kau seharusnya mengakhiri hal ini dengan cepat atau kembali saja. Menggunakan surat pernyataan bersalah untuk mengembalikan beberapa aset suamimu. Apakah itu masuk akal?”

Lee Bok Shim: “Oemma ingin mendengar permintaan maaf  dari appa-mu untuk banyak hal. Apa lagi yang bisa kulakan? Satu2nya cara untuk memerintah appa-mu hanya dengan uang.”

Dong Joo hanya tersenyum getir mendengar perkataan ibunya.

Tiba2 ibunya bertanya: “Apakah kau tidur dengan Jin Young?” *kayanya Jin Young ini teman wanita Dong Joo pas di Australia itu dech…* “Setelah perceraianmu, Oemma pikir kau tidak akan pernah meyukai orang lain lagi. Meskipun Oemma harus berterima kasih karena gadis itu menyelamatkanmu… Tapi dari sudut pandangmu, ini terlihat seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Itu yang membuatku agak tidak senang.”

Dong Joo terlihat salah tingkah saat ibunya menanyakan hal itu.

Lee Bok Shim: “Apakah kau bahagia?”

Dong Joo: “Kenapa ibu tiba2 menanyakan hal itu?”

Lee Bok Shim: “Hidup itu sangat singkat. Kau harus memastikan hidupmu bahagia. Oemma sudah berumur setua ini tapi masih harus melakukan hal-hal seperti ini untuk menemukan kebahagiaan.”

Dong Joo: “Aku akan pergi ke Pulau Jeju. Kakek mengancam akan mencabut kartu kreditku.”

Lee Bok Shim: “Sampai kapan kau akan terus seperti ini…”

Dong Joo: “Kakek ingin ibu sering2 menghubunginya. Jaga dirimu baik2 Nyonya Lee. Jangan mengencani sembarang pria.”

Setelah mencium pipi ibunya, Dong Joo pun pergi dari sana.

Adegan beripindah ke rapat direksi yang dihadiri oleh Han Tae Man dan Han Suk Sang. Saat salah seorang karyawannya sedang melakukan presentasi mengenai objek terbaru mereka di Pulau Jeju, Han Suk Sang tiba2 menghentikan presentasi itu, dan bertanya mengapa dana yang di keluarkan harus sebesar itu. Han Tae Man mengatakan bahwa dana itu bukan hanya untuk membeli resortnya, tapi juga untuk membangun padang golf, lapangan kuda, dan hal2 yang akan menjadikan resort itu menjadi nomor satu di Asia. Namun Han Suk Sang menyatakan bahwa tanpa hal2 seperti itupun, resort yang mereka bangun sudah cukup bagus. Namun setelah mendengar penjelasan tambahan dari salah seorang koleganya, Han Suk Sang tidak megatakan apapun untuk menentang pengembangan resort mereka.

 

Di Pulau Jeju, Dong Joo sedang melihat-lihat resort terbaru milik keluarganya. Namun setelah melihat2 sebentar, Dong Joo berniat untuk menghabiskan waktunya di Pulau Jeju itu dengan bersenang-senang. Dong Joo bermaksud menyerahkan semua urusan mengenai resort itu pada sekretarisnya. Namun, ternyata sekretarisnya itu pintar sekali untuk membuat Dong Joo melakukan tugasnya dengan baik, sekretarisnya itu mengungkit-ngungkit soal pembelian Volpony. Dong Joo tidak bisa membantahnya.

Sementara di Paradise Ranch, Da Ji sedang berusaha membuat Paulist, kuda yang dibelinya di Australia, agar mau berjalan. Akan tetapi, kuda itu tidak bergerak sedikitpun. Tuan Yang memperhatikan usaha yang dilakukan Da Ji untuk membuat kuda itu berjalan dengan tatapan sinis. Da Ji berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa Paulist masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi di tempat yang baru. Tuan Yang menanggapinya dengan sinis. Tuan Yang megatakan dia tidak akan memberikan 5.000.000 won pada Da Ji. Bahkan dia meminta Da Ji untuk membayar 2000 won padanya. Da Ji memohon untuk diberi waktu satu minggu lagi untuk membuat Paulist berjalan. Saat Da Ji sedang berusaha membujuk Tuan Yang tiba2 handphonenya berbunyi. Telepon itu ternyata dari orang yang membeli seekor kuda poni dari peternakan Da Ji. Da Ji tidak pernah merasa menjual kuda itu. Tapi Da Ji pikir dia tahu siapa dalang dari kejadian itu.

Ternyata yang menjual kuda itu adalah Lee Dou Ji, adik Da Ji. Adiknya menjual kuda itu untuk membeli kamera seharga 1.000.000 won. Akhirnya Lee Dou Ji dihukum berdiri sambil mengangkat tangannya oleh Ayahnya. Lee Dou Ji berusaha membela dirinya dengan mengatakan bahwa memotret juga bisa menghasilkan uang. Akhirnya karena merasa kasihan, Da Ji membantu adiknya untuk membujuk ayahnya menghentikan hukuman itu.

 

Dong Joo akhirnya mau melihat-lihat peternakan yang baru saja dibeli oleh perusahaan keluarganya, setelah dipaksa oleh sekretarisnya. Dong Joo kemudia berjalan-jalan mengelilingi peternakan itu. Betapa terkejutnya DOng Joo saat melihat Da Ji juga ada di peternakan itu.

Da Ji: “Apa yang kau lakukan di sini? Jangan katakan kau ke sini karena ingin menemuiku.”

Dong Joo: “Sedang apa kau di tempat ini?”

Da Ji: “Aku pemilik peternakan ini. Tentu saja aku ada di sini. Kenapa? Apa kau akan mengusirku lagi”

Dong Joo tidak menanggapi omongan Da Ji. Dia malah bertanya pada sekretarisnya apakah benar tempat ini yang dibeli oleh perusahaan mereka. Sekretarisnya dengan sangat yakin membenarkan hal itu. Da Ji terkejut mendengar perkataan sekretaris Dong Joo karena dia telah membeli kembal Paradise Ranch seminggu yang lalu. Tapi sekretaris itu bersikeras bahwa memang peternakan itulah yang di beli oleh perusahaan keluarga Han.

Dengan penuh percaya diri Da Ji menjelaskan bahwa peternakan ini sudah dibeli oleh Tuan Park. Dong Joo pun memandang tajam sekretarisnya dan menanyakan apakah sudah ada konfirmasi tentang hal ini. Sekretarisnya menjawab bahwa dia kurang begitu tahu tentang masalah itu. Dong Joo langsung memerintahkan sekretarisnya untuk segera mengecek tentang hal ini.

 

Da Ji: “Bisakah kau mendekat ke sini sebentar? Berdasarkan pemikiranku… Sepertinya kau kena tipu. Sebenarnya aku pernah mendengar kabar bahwa ada orang yang ingin membeli peternakan ini. Tapi aku sudah menandatangani kontrak pembeliannya seminggu yang lalu.”

Akhirnya Da Ji dan Dong Joo pergi ke tempat kerja Dong Joo selama di Pulai Jeju untuk meluruskan masalah ini. Sembari menunggu sekretaris Dong Joo yang sedang mengkonfirmasikan pembelian tanah itu pada pihak2 yang terkait, Da Ji berusaha menghubungi nomor Tuan Park. Namun nomornya tidak dapat dihubungi. *Da Ji ini polos atau gimana sih?? Udah ada hal mencurigakan kaya gitu kenapa dia nggak sadar kalo yang kena tipu itu dia, bukannya Dong Joo!!!*

Da Ji: “Kenapa tak bisa dihubungi ya? Apa dia sedang sibuk mengurusi masalah imigrasi?”

Da ji mengalihkan perhatiaannya pada Dong Joo.

Da Ji: “Perantara perusahaan kalian… apa kau sudah berhasil menghubunginya? Lagipula tidak mungkin ada penipu yang mau mengangkat telepon saat di hubungi”  *nah… itu tau… tapi kenapa Da Ji nggak nyadar kalau Tuan Park itu penipu ya?? Padahal kan udah jelas teleponnya nggak bisa dihubungi… >.<*

Akhirnya Da Ji melanjutkan ocehannya: “Aku tak tahu kau bekerja di tempat ini. Sudah cukup lama aku tidak pergi ke tempat ini.”

Setelah mengucapkan kata2 itu, Da Ji tiba2 terdiam. Tampaknya dia merasa telah salah bicara, mengungkit masa lalu. Akhirnya untuk menutupi rasa bersalahnya Da Ji mulai mengoceh lagi.

Dong Jo: “Sebenarnya untuk apa kau datang ke sini?”

Da Ji: “Aku… bekerja di peternakan. Aku juga mengelola Paradise Ranch. Kadang2 aku juga merawat kuda yang sakit. Aku ini dokter hewan.”

Dong Joo: “Dokter hewan??”

Da Ji: “Mmmm… Jika terjadi kesalahan dalam kontrakmu, perusahaanmu pasti mendapat masalah. Ini pasti tidak akan berpengaruh baik padamu, kan?”

Dong Joo: “Kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini.”

Da Ji: “Kasar sekali. Aku datang ke sini karena aku peduli padamu.”

Tiba2 sekretaris Dong Joo masuk dengan langkah gembira. Dan menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun kesalahan dalam kontrak pembelian paradise ranch. Paradise Ranch telah dibeli oleh perusahaan keluarga Han atas nama Dong Joo.  Da Ji sangat terkejut mendengar hal itu. Sekretaris Dong Joo meminta agar Da Ji segera meninggalkan lokasi peternakan itu. Tapi Da Ji  masih belum percaya bahwa paradise ranch bukan hak miliknya lagi. Da Ji berusaha menelpon Tuan Park, tangannya gemetaran saat memegang handphonenya, tapi teleponnya masih tidak bisa dihubungi. Da Ji berlari ke rumah Tuan Park untuk meminta penjelasan. Saat sampai di rumah Tuan Park, akhirnya Da Ji benar2 sadar bahwa dia telah di tipu. Di depan rumah Tuan Park ada banyak orang yang juga tertipu seperti dirinya.

Sementara itu tidak lama setelah Da Ji meninggalkan kantor Dong Joo. Ada seorang investor yang datang menemui Dong Joo. Dan investor itu tidak lain adalah Edward. Saat pertama kali melihat Edward di kantornya Dong Joo terlihat sedikit terkejut. Ternyata Edward, atau dikenal juga dengan nama Seo Yun Ho, adalah investor dari grup FRIENDS. *ceritanya tuh group FRIENDS ini grup yang gede banget….*

 

Akhirnya mereka membahas tentang pembangunan resort yang akan di danai oleh grup FRIENDS. Namun pikiran Dong Joo saat itu masih tertuju pada Da Ji, Dong Joo sama sekali tidak memperhatikan jalannya perundingan tersebut. Dong Joo juga bertanya2 kenapa orang yang ada di depannya ini datang ke tempat itu. Sekretaris Dong Joo menawarkan untuk mengecek kondisi resort yang akan mereka bangun, tetapi Seo Yun Ho mengatakan bahwa dia ingin melihat2 sendiri kondisinya. Setelah perundingan itu berakhir, Dong Joo bertanya pada sekretarisnya tentang nasib pemilik peternakan yang dibeli oleh perusahaan mereka. Dong Joo menatap tajam sekretarisnya saat sekretarisnya itu menyatakan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Akhirnya sekretarisnya mengatakan bahwa kemungkinan Da Ji ditipu dengan kontrak ganda.

Sementara itu Seo Yun Ho dan tangan kanannya sedang membahas mengapa perusahaan Han menugaskan Han Dong Joo untuk mengurusi pembangunan resort ini, padahal Dong Joo sama sekali tidak punya kekuatan di dalam perusahaan Han. Mereka bertanya2 apakah perusahaan itu memandang sebelah mata pada mereka.

Keesokan harinya di Paradise Ranch, Da Ji sedang memohon pada Tuan Yang untuk memaklumi situasi yang sedang dihadapinya dan memberinya waktu lebih lama untuk membayar 20.000.000 won pada Tuan Yang sebagai ganti rugi karena Da Ji tidak bisa memberikan kuda yang bagus untuknya.

Da Ji: “Aku baru melatih kuda ini selama 10 hari… Baiklah aku mengerti. Kita kan membahas masalah ini setelah aku kembali dari Seoul.”

Tuan Yang: “Jangan pergi… Jangan kabur… Jika kau memaksa untuk pergi, aku harus menulis garansi tertulis sebelum meninggalakan tempat ini.”

Da Ji; “Aku akan ketinggalan pesawat!!! Aku harus pergi dan menemui kepala organisasi resort itu.”

Tuan Yang: “Ya!!! Apa kepala resort itu berkata bahwa dia mau menemuimu?”

Karena kehabisan akal untuk menghindari Tuan Yang saat itu, Da Ji pun berbohong dengan berteriak bahwa Paulist kabur!!! Saat Tuan Yang menoleh untuk melihat Paulist, Da Ji kabur dengan secepat kilat. Tuan Ynag sadar bahwa Da Ji membohonginya pun segera berlari mengejar Da Ji. Da Ji terus berlari sambil melihat ke arah Tuan Yang. Dan tiba2…. Da Ji menabrak Edward alias Seo Yun Ho!!!

to be continued on Paradise Ranch Episode 2…..

Nah gimana pendapat readers soal sinopsis yang author buat ini?? Menurut kalian sinopsis ini kurang apa?? Kasih comment yaw.. Biar lain kali author bisa membuat sinopsis yang lebih baik…

Kamsahamnida… ^^

Shared at shiningyesung.wordpress.com by clouds

TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s